A. PENDAHULUAN
- Pengertian Lembaga Media Tradisional
Kehidupan media tradisional sangat bergantung pada eksistensi seni dan budaya media tradisional. Sehingga perkembangan lembaga media tradisional tidak dapat dilepaskan dari kehidupan seni dan budaya media tradisional. Karena itu berbicara tentang arah pengembangan dan pemberdayaan lembaga media tradisional akan selalu menyentuh keberadaan seni dan budaya media tradisional.
Dalam dokumen ini definisi kerja dari Lembaga Media Tradisional adalah kelompok seni dan budaya media tradisional yang dapat melakukan kegiatan penyebarluasan informasi. Sebagai kelompok pertunjukan, Lembaga Media Tradisional mempunyai tiga unsur sebagai berikut :
a. Organisasi yang terdiri atas system pengelolaan (manajemen, tenaga pelaksana (SDM), dan modal kerja.
b. Pertunjukan yang mencakup penampilan di depan khalayak dan isi pesan yang disampaikan kepada penonton. Penampilan seni tradisi yang mengandung nilai kearifan lokal, informasi dan komunikasi bagi masyarakat baik langsung maupun melalui audio visual.
c. Pendukung baik sebagai Pelaku, Pembina, Pengguna (Penanggap), Penonton, Pemerhati, dan Sponsor.
- Basis Lembaga Media Tradisional
Masyarakat
- Fungsi Media Tradisional
Media tradisional memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Sarana Hiburan
Sebagai sarana hiburan, fungsi ini terkesan sangat menonjol dalam media tradisional. Dalam konteks ini media tradisional identik dengan tontonan yang menghibur. Sudah lazim diberbagai daerah, media tradisional ini dikategorikan dengan panggung hiburan atau pertunjukan keramaian. Sifatnya yang menghibur membuat suatu media tradisional menjadi populer.
Tetapi, justru karena aspek hiburan dan popularitasnya inilah yang membuat media tradisional memiliki kekuatan tersendiri di tengah masyarakat sehingga mampu mempertahankan kesetiaan khalayaknya. Karena merasa terhibur dan senang, membuat penonton bersedia untuk menyaksikan pertunjukannya hingga akhir. Oleh sebab ini pula, beberapa jenis media tradisional yang mampu memberikan kepuasan hiburan bagi penontonnya, biasanya dapat bertahan dan berkembang dengan baik yang dibuktikan dari banyaknya permintaan manggung oleh masyarakat seperti dalam peringatan kelahiran, resepsi pernikahan, peringatan 17 Agustus, dan lain-lain.
b. Sarana Pendidikan
Sambil memberikan hiburan, dalam pertunjukannya media tradisional biasanya diisi dengan pesan-pesan moral dan pencerahan, baik yang bersumber dari nilai agama, nilai kearifan lokal, maupun dari peraturan perundangan. Pesan-pesan tersebut umumnya bersifat mendidik penonton agar berpikir, bersikap dan bertindak berdasarkan nilai dan norma yang berlaku.
Pesan moral yang disampaikan melalui media tradisional kepada penonton ini, selanjutnya dalam pergaulan sosial akan diceritakan kembali yang artinya ditularkan oleh penonton kepada anggota masyarakat lainnya yang kebetulan tidak menonton, baik di dalam lingkungan keluarga dan tetangga, maupun dalam lingkungan sosial yang lebih luas. Dengan demikian terjadi penyampaian pesan moral secara berantai. Oleh karena itu media tradisional sering juga disebut sebagai media atau sarana penanaman nilai-nilai.
c. Sarana Kontrol Sosial
Kritik sosial yang disampaikan melalui media tradisional umumnya lebih bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat, termasuk pejabat, sebab cara penyampaiannya bersifat tidak langsung melainkan melalui analog (kiasan) dan perlambang yang dipadukan dengan adegan dalam bentuk lakon.
Terkadang kontrol sosial itu dilakukan dalam bentuk sindiran-sindiran yang diplesetkan dengan lelucon yang segar sehingga tidak menyinggung perasaan orang yang menerima kritik. Sebaliknya justru dapat menciptakan keakraban dan kebersamaan diantara penonton. Dalam sistem sosial yang sarat dengan budaya “ewuh pakewuh” teknik kritik sosial seperti itu sangat cocok tanpa menimbulkan rasa malu dari pihak yang dikritik.
d. Sarana Diseminasi Informasi
Dalam pertunjukannya, media tradisional dapat menyampaikan berbagai macam informasi mengenai kebijakan-kebijakan dan program pembangunan kepada penonton. Dalam hal ini media tradisional memang memiliki kekuatan tersendiri dalam menyebarkan pesan. Sambil mempertahankan sifat-sifat dasarnya sebagai sebuah kesenian, media tradisional dapat menyebarkan informasi dengan menarik dan komunikatif.
Sebagai salah satu modal penyebaran informasi, media tradisional menawarkan cara-cara yang lebih khas dalam menyebarkan informasi. Melalui cerita dan unsur hiburannya, media tradisional dapat mengkontekskan pesannya sesuai dengan situasi sekarang secara luwes. Maksudnya, dalam penyampaian informasi media tradisional akan menyesuaikan dengan alur lakon atau pakem yang berlaku dalam seni pertunjukan sehingga tidak mengurangi nilai estetis media tradisional itu sendiri.
e. Sarana Pelestarian dan Pengembangan Nilai-nilai Budaya Bangsa
Salah satu fungsi media tradisional adalah melestarikan nilai-nilai budaya bangsa. Hal ini dapat dilihat dari dua aspek. Pertama, sebagai usaha mewariskan budaya bangsa, berarti mengalihkannya dari satu generasi (tua) ke generasi lainnya (muda). Kedua, menghidupkan kembali penghayatan atas nilai-nilai budaya yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat pendukungnya.
f. Sarana Perekat Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Media tradisional dapat berperan dalam proses integrasi sosial dan nasional. Dalam sebuah bangsa yang majemuk seperti Indonesia, media tradisional memiliki kemampuan untuk merangkum unsur-unsur budaya bangsa dan menyebarluaskannya kembali ke masyarakat.
Berdasarkan tinjauan sosiologis, media tradisional mampu menjadi ikatan integratif bagi masyarakat. Dengan dipentaskannya pertunjukan media tradisional akan menimbulkan interaksi sosial. Dari interaksi tersebut akan diperoleh berbagai keuntungan sosial, di antaranya (1) ajang silaturahmi diantara saudara/keluarga, (2) sarana pengenalan budaya antara satu kelompok budaya masyarakat dengan kelompok budaya masyarakat lainnya, (3) sarana pengumpul massa, (4) media penyelesaian konflik, dan (5) sebagai media perekat dan pemersatu, paling tidak bagi suatu kelompok pendukung kebudayaan.
g. Pemelihara Identitas dan Orientasi Budaya Bangsa
Media tradisional hidup dan berakar dalam budaya bangsa. Dengan memberdayakan media tradisional berarti kita juga menjaga dan memelihara identitas bangsa. Melalui penampilan berbagai seni pertunjukan tradisional kita juga memberi orientasi budaya ditengah perkembangan budaya global (populer) yang menerpa masyarakat kita.
Mengingat setiap suku bangsa Indonesia memiliki khasanah budayanya, maka pemanfaatan media tradisional akan sangat signifikan bagi pemeliharaan identitas setiap suku bangsa. Dengan menampilkan masing-masing media pertunjukan tradisionalnya, identitas budaya bangsa akan terpelihara dan terjaga.
- Agenda Pemberdayaan Lembaga Media Tradisional sebagai Sarana Diseminasi Informasi
Sekalipun potensinya besar, peranan Lembaga Media Tradisional sebagai sarana diseminasi informasi tidak akan aktual jika tidak memperoleh pemberdayaan secara sistematis, terpadu dan terfokus. Hanya melalui proses pengembangan yang bervisi, maka harapan untuk menjadikan lembaga media tradisional sebagai sarana diseminasi informasi yang handal dapat terwujud.
Sehubungan dengan itu, agenda pemberdayaan Lembaga Media Tradisional sebagai sarana penyebaran informasi secara global tampak dalam gambar 1. Dalam gambar tersebut tampak arah pengembangan lembaga media tradisional yang semakin ke kanan semakin menunjukkan keunggulan potensinya.
B. ARAH PENGEMBANGAN
- Visi
Terwujudnya lembaga media tradisional yang profesional, mandiri dan populer dalam rangka meningkatkan kualitas dan keseimbangan arus informasi yang efektif dan efisien menunju masyarakat informasi yang adil dan sejahtera.
- Misi
a. Meningkatkan kemandirian lembaga media tradisional sebagai sarana diseminasi informasi
b. Meningkatkan profesionalisme pengelolaan lembaga media tradisional sebagai sarana diseminasi informasi
c. Meningkatkan dan memantapkan peran lembaga media tradisional sebagai saluran komunikasi timbal balik antara pemerintah dan masyarakat serta antara unsur-unsur dalam masyarakat.
d. Mendorong peran lembaga media tradisional dalam mewujudkan pemerataan informasi
e. Mendorong lembaga media tradisional dalam mewujudkan masyarakat informasi yang adil dan sejahtera
- Tujuan
MengembangKan organisasi dan aspek-aspeknya yang meliputi manajemen, sumber daya manusia (SDM), dan modal.
a. Mengembangkan kinerja lembaga media tradisional
b. Meningkatkan kesadaran, inisiatif, dan partisipasi pendukung Lembaga Media Tradisional.
- SASARAN :
a. Terwujudnya sistem pengelolaan organisasi yang baik pada Lembaga Media Tradisional.
b. Tercapainya kinerja pertunjukan Lembaga Media Tradisional dalam diseminasi informasi
c. Terwujudnya elemen pendukung yang berpartisipasi aktif dalam pengembangan Lembaga Media Tradisional.
5. LANDASAN
Pokok-pokok program ini dibuat dengan berlandaskan kepada :
- Pancasila.
- Undang-Undang Dasar 1945.
- UU No. 5 Tahun 1985 tentang Keormasan”.
- Tap MPR No. 5/MPR tahun 2000 tentang Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional”.
- UU No.37 tahun 2004 tentang “Pemerintah Daerah”.
- Permendagri.
- Keputusan Gubernur.
- Visi, Misi dan Landasan.
- Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
C. STRATEGI PENGEMBANGAN
1. Strategi Pengembangan
Mengacu kepada visi, misi, tujuan dan sasaran pengembangan Lembaga Media Tradisional, maka strategi yang ditempuh adalah melalui kerjasama sinergis antara berbagai komponen masyarakat dengan perannya masing-masing.
Komponen utama dalam pengembangan dan pemberdayaan Lembaga Media Tradisional, yaitu :
1. Pemerintah (Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Dalam Negeri, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementrian Negara Badan Usaha Milik Negara) dan Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota bertindak selaku fasilitator baik dalam hal sarana maupun prasarana.
2. Setiap kelompok media tradisional sendiri adalah pihak yang paling bertanggung jawab mengembangkan kelompoknya masing-masing dengan inisiatif, kreativitas dan inovasinya sendiri.
3. Partisipasi aktif dari masyarakat pendukung dalam mengembangkan Lembaga Media Tradisional.
4. Kritik dan masukan dari kalangan pemerhati baik dari kaum akademisi maupun anggota masyarakat lainnya untuk pengembangan Lembaga Media Tradisional.
2. Tahapan Pengembangan Media Tradisional
a. Tahap pertama, adalah Pemetaan Kondisi Lembaga Media Tradisional sebagai dasar untuk kegiatan pengembangan tahap selanjutnya.
b. Tahap kedua, adalah upaya mengembangkan Model Kelompok Media Tradisional yang dapat dijadikan pertunjukan contoh sebagai sarana diseminasi informasi.
c. Tahap ketiga, adalah Program Pengembangan Kesadaran Stakeholders tentang pentingnya Kelompok Media Tradisional sebagai sarana diseminasi informasi.
d. Tahap keempat, adalah usaha mengembangkan Jaringan Kerja (network) Kelompok Media Tradisional baik di dalam suatu wilayah (kabupaten dan provinsi) maupun antar wilayah (antara kabupaten, antar provinsi, dan seluruh
e. Tahap kelima, adalah Program Penguatan Efektivitas Kelompok Media Tradisional sebagai sarana diseminasi informasi.
f. Tahap keenam, adalah Pengembangan Nilai Tambah Kelompok Media Tradisional sebagai sarana diseminasi informasi.
Keenam tahap ini diharapkan dapat dilakukan secara simultan mulai tahun 2007 hingga tercapainya visi pengembangan dan pemberdayaan lembaga media tradisional.
D. PROGRAM PENGEMBANGAN LEMBAGA MEDIA TRADISIONAL
1. Pemetaan Kondisi Lembaga Media Tradisional
Pemetaaan kondisi Lembaga Media Tradisional yang dimaksud adalah pembuatan data base tentang Lembaga Media Tradisional di pusat dan daerah berupa : (1) pengumpulan dan up dating data tentang kelompok media tradisional (sekunder dan primer) yang bisa dijadikan sarana diseminasi informasi (2) pembuatan sistem pelaporan. Hasil dari kegiatan ini adalah listing (daftar inventarisasi) tentang Lembaga Media Tradisional (jenis, bentuk, nama kelompok, alamat, tokoh, dan aktivitasnya) atau dapat juga berupa film dokumenter tentang penampilan media tradisional. Kegiatan ini dilakukan oleh FK METRA dengan stakeholder.
2. Pengembangan Model Kelompok Media Tradisional
Program ini adalah berupa kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas kelompok media tradisional sebagai model pelaku diseminasi informasi (1) mengembangkan kelompok yang berhasil sebagai percontohan media tradisional sebagai saluran diseminasi informasi (2) mengekspose kelompok media tradisional tersebut melalui media tatap muka,media cetak dan elektronik. Hasil yang diinginkan melalui kegiatan ini adalah beberapa model jenis dan kelompok media tradisional yang komunikatif sebagai sarana diseminasi informasi.
3. Pengembangan Kesadaran Stakeholders Kelompok Media Tradisional
Program ini merupakan upaya-upaya dalam mewujudkan kerjasama dengan stakeholders (pihak-pihak yang berkepentingan) tentang pentingnya kelompok media tradisional sebagai sarana diseminasi informasi. Kegiatan yang dimaksud antara lain : (1) social marketing atau pemasaran sosial (2) social engineering atau rekayasa sosial, dan (3) promosi melalui penampilan kelompok-kelompok media tradisional di media elektronik (TV), dan di tengah masyarakat (live show), (4) pemberitaan kelompok media tradisional dan kegiatannya di media cetak dan elektronik, (5) Memberikan pembinaan kepada kelompok Media Tradisional. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran, dan perilaku stakeholders mengenai pentingnya kelompok media tradisional sebagai sarana diseminasi informasi.
4. Pengembangan Jaringan Media Tradisional
Program ini bertujuan mendorong terbentuknya jaringan (network) yang luas diantara kelompok media tradisional. Bentuk kegiatan yang bisa dilakukan di antaranya : (1) memfasilitasi Pembentukan Forum Komunikasi Media Tradisional, atau disingkat FK METRA (2) memfasilitasi pertemuan antar kelompok media tradisional (3) mendorong kerjasama (kemitraan) antar kelompok media tradisional dan media massa dalam tukar menukar informasi, pengalaman dan sosialisasi program kebijakan pemerintah.
Melalui kegiatan ini diharapkan : (1) semakin meluasnya jaringan Lembaga Media Tradisional sebagai sarana diseminasi informasi (2) bermunculannya forum-forum (paguyuban) komunikasi (3) meningkatnya frekuensi dan intensitas pertemuan antar Lembaga Media Tradisional.
5. Penguatan Efektivitas Kelompok Media Tradisional
Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan pelaku dan aktifitas kelompok media tradisional baik dari segi isi maupun kualitas pertunjukkannya sebagai diseminator informasi.
Kegiatan program terpadu reguler, diantaranya :
a. Workshop pengembangan media tradisional.
b. Festival/apresiasi (nasional, regional).
c. Penghargaan dan anugerah seni dan budaya.
d. Monitoring dan evaluasi kegiatan kelompok media tradisional.
e. Kegiatan kolaborasi antar kelompok media tradisional.
Frekuensi pelaksanaan kegiatan di atas diatur sesuai dengan kebutuhan bidang masing-masing. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah (1) meningkatnya pengetahuan (wawasan) tentang berbagai/beragam masalah sosial sebagai content dalam kegiatan diseminasi informasi (2) meningkatnya kemampuan kelompok media tradisional dalam segi pertunjukan/penampilan dan dalam menyampaikan informasi.
6. Pengembangan Nilai Tambah Kelompok Media Tradisional
Program ini bertujuan untuk menumbuhkan pelestarian nilai kearifan lokal, apresiasi dan daya saing lembaga media tradisional sebagai sarana diseminasi informasi. Kegiatan yang dilakukan antara lain :
a. Pembinaan
b. Festival
c. Apresiasi
d. Pagelaran
e. Lomba (dalam satu jenis media tradisional)
E. POKOK-POKOK PROGRAM
1. Program Jangka Panjang
Meningkatkan peran serta FK-Metra sebagai organisasi independen, populis dan dinamis serta memasyarakat sebagai sarana komunikasi yang merakyat.
Berdasarkan hal ini, maka program kerja jangka panjang yang akan dilakukan adalah :
a. Penguatan kelembaaan FK-Metra.
b. Pengembangan SDM dan kaderisasi.
c. Pembinaan seni budaya tradisional.
d. Membangun jejaring kemitraan antara FK-Metra dengan dunia usaha, pemerintah dan masyarakat guna meningkatkan daya jual seni budaya tradisional.
e. Pengembangan seni budaya tradisional.
f. Pemberdayaan seni budaya tradisional sebagai media komunikasi.
2. Program prioritas
a. Sosialisasi FK-Metra kepada Kabupaten/Kota.
b. Pembentukan Pengurus FK-Metra Kabupaten/Kota.
c. Pendataan media tradisional di wilayah Propinsi Jawa Timur.
d. Pembianaan media tradisional kepada seluruh FK-Metra Kab./Kota.
e. Apresiasi media tradisional.
f. Pagelaran media tradisional.
F. INDIKATOR KEBERHASILAN PROGRAM
Untuk mengetahui keberhasilan pokok-pokok program organisasi perlu ditetapkan pedoman dasar tolok ukur keberhasilan program yang harus dilaksanakan oleh seluruh perangkat FK-Metra diseluruh jajaran.
Pokok pedoman dasar indikator keberhasilan program tersebut mencakup beberapa ketentuan berikut ini :
a. Setiap tahap mulai dari perencanaan, penyiapan dan pelaksanaan program harus ada batas waktu yang jelas didasarkan pada substansi dan fokus kegiatan.
b. Untuk menunjang keberhasilan pokok-pokok program FK-Metra dalam pelaksanaannya perlu dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis serta kerangka pembagian waktunya sebagai panduan yang mengikat.
c. Pada periode tertentu, atau waktu lain yang ditetapkan kemudian secara berjenjang dilakukan pemantauan dan evaluasi, hasil kerja pelaksanaan program untuk tetap mempertahankan arah perjuangan.
G. PENUTUP
Rumusan konsep kerangka acuan arah pengembangan dan pemberdayaan Lembaga Media Tradisional ini disusun dengan mengacu pada visi dan misi FK METRA serta data lapangan dan masukan dari praktisi dan para pakar di bidang seni dan budaya, komunikasi, antropologi, dan sosiologi.
Mengingat dinamika media tradisional yang begitu tinggi, rumusan konsep kerangka acuan arah pengembangan dan pemberdayaan Lembaga Media Tradisional ini dari waktu ke waktu perlu ditinjau kembali dan bilamana perlu diadakan penyesuaian dalam rangka meningkatkan peran media tradisional sebagai sarana diseminasi informasi sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi para pendukung media tradisional.
DITETAPKAN DI : SURABAYA PADA TANGGAL : 21 Januari 2010
PENGURUS PROPINSI
FORUM KOMUNIKASI MEDIA TRADISIONAL
( FK – METRA )
SELAKU
PIMPINAN RAKERPROP FORUM KOMUNIKASI MEDIA TRADISIONAL
TAHUN 2010
Drs. SUKO WIDODO, MA. Dra. ROESTININGSIH
Ketua Sekretaris
PENGURUS FORUM KOMUNIKASI
BIDANG PROGRAM KERJA DALAM RAPAT KERJA PROPINSI
FORUM KOMUNIKASI MEDIA TRADISIONAL
TAHUN 2010
KETUA : Drs. Suko Widodo, MA
SEKRETARIS : Dra. Roestiningsih, MM
PENYAJI :
NARA SUMBER :
PENGARAH :
ANGOTA :
1. Dewi Mariza, S.Sos.
2. Cahyono Yudiatmaji
3. Drs. Suwarmin
4. Agung Budi Nugroho, S.Pd.
5. Subiyantoro
6. Luhur Sejati, M.Si.
7. Sariono, S.Sn.
8. Drs. Lego Suprapto
9. Agus Suharjoko, S.Sn.